Para ahli fesyen di Eropa dan Amerika telah lama sepakat bahwa vintage fashion merupakan istilah baru untuk pakaian gaya lama atau pakaian bekas bercorak lama. Kata Vintage itu sendiri memiliki arti ‘barang lama’. Pakaian vintage adalah barang yang diproduksi dari 1920 hingga 1980. Pakaian yang diproduksi sebelum tahun 1920, tidak termasuk vintage, tetapi sudah dikategorikan pakaian antik (antique fashion). Pakaian vintage yang belum dipakai dan sering disimpan di gudang tua, dianggap lebih berharga, terutama yang bermerek asli.
Akibat banyaknya selebiriti top (aktris film dan top model) dunia yang mengenakannya. Memasuki awal ‘90-an, permintaan akan pakaian vintage, jadi meningkat tajam. Bahkan saat ini, begitu sulit mendapatkan pakaian vintage sebelum era ‘50-an. Selain itu, kenaikan permintaan ini, dipicu pula oleh semakin meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan hidup yang menyadari bahwa daripada membuang sesuatu menjadi onggokan sampah, lebih baik mendaur ulang untuk digunakan kembali. Serta keinginan orang-orang sekarang yang ingin mengulangi budaya berpakaian yang pernah ngetren di masa lampau, seperti misalnya jenis pakaian untuk menari Rockabilly (Rock ‘n Roll Dance) dan Swing Dance (Jazz Dance).
Siklus mode kadang-kadang selalu bergulir ke posisi yang sama. Contohnya, gaun slip sederhana ‘90-an dibuat mirip gaya slip ‘30-an. Gaya ini umumnya disebut sebagai ‘reproduksi vintage’ atau ‘inspirasi vintage’ yang menggabungkan gaya lama untuk rancangan terbaru. Salah satu kelebihan dari karya rekayasa ini adalah hasilnya tidak seperti hasil tiruan dan biasanya tersedia dalam berbagai jenis kain, ukuran, serta warna.
Frock Me adalah nama pameran vintage yang pertama kali diselenggarakan di dunia. Acara ini secara rutin setiap tahun digelar di Inggris (Chelsea, London, Brighton). Pakaian vintage juga kadang-kadang bisa diperoleh dari teman atau kerabat yang berusia lanjut. Biasanya di antara mereka ada yang membeli pakaian untuk jangka waktu pemakaian yang lama. (Dedi Djanur)

