![]() |
| foto: freeimagephoto |
Perempuan tetaplah perempuan, dia adalah seorang istri dan ibu bagi suami dan anak-anaknya. Meski di luar rumah jabatannya tinggi, setelah sampai di rumah tetaplah dia harus mengurusi keluarganya.
Di rumah, perempuan zaman sekarang pun tentunya lebih baik dibanding dahulu. Bila dulu para pria enggan mengerjakan pekerjaan rumah, karena hal itu dianggap tugas perempuan, sekarang para pria lebih ringan tangan, dan menganggap dirinya pun harus membantu pekerjaan rumah untuk meringankan tugas sang istri.
Tapi, itu tidak terjadi di semua negara, banyak negara-negara di dunia ini masih memegang prinsip bahwa pekerjaan rumah adalah tugas istri. Padahal berbagi tugas dan saling membantu akan membuat sebuah keluarga menjadi lebih sempurna.
Pernikahan adalah suatu hubungan atau kemitraan, di mana terjadi kerja sama antara dua sisi yaitu suami dan istri. Hal ini bisa dianalogikan dengan suatu permainan di mana kerja sama (teamwork) menjadi penting karena jika salah satu menolak untuk bekerja sama, maka kinerja pun akan gagal. Hal yang sama berlaku dengan pernikahan, harus bisa bekerja sama, dan berkomitmen di mana kedua belah pihak harus ikut terlibat. Pekerjaan rumah tangga adalah bagian dari kegiatan keluarga dan sangat penting bagi suami dan istri untuk mendiskusikan bagaimana menangani hal tersebut.
Pada zaman dahulu, ketika suami yang seharusnya sebagai pencari nafkah, dan para istri tinggal di rumah untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Suami kemudian membawa perlengkapannya dan pergi ke luar untuk mencari nafkah kemudian pulang untuk menikmati kenyamanan di rumahnya, semuanya disiapkan istri mulai dari makanan, pakaian sampai mandi. Pria diperlakukan seperti raja oleh wanita di rumah. Tapi waktu telah berubah. Istri perlu mencari nafkah juga untuk membantu suami membiayai keluarga.
Mengalami Depresi
Wanita sekarang setara dengan pria dalam semua aspek kehidupan. Wanita sekarang bisa duduk di kursi eksekutif, beberapa bahkan ada yang menjadi pilot, sopir, insinyur dan lainnya. Wanita bekerja sama kerasnya dengan pria karena kebutuhan hidup yang semakin berat untuk dipenuhi.
Jika suami dan istri bekerja penuh waktu, kemungkinan mereka akan lebih bahagia jika mereka membagi pekerjaan rumah tangga dan merawat anak-anak. Itu hasil sebuah studi oleh para peneliti di University Of Illinois di Champaign – Urbana. Studi tersebut dilakukan terhadap 680 pasangan di Amerika, yang mengatakan bahwa depresi adalah hal yang paling umum terjadi dalam pernikahan ketika istri harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan masih harus menanggung beban mengurus rumah dan anak-anak tanpa mendapat banyak bantuan dari pasangannya.
Studi ini juga menemukan bahwa semakin tinggi gaji wanita semakin lebih besar kemungkinan bagi suami untuk mengulurkan tangan membantu pekerjaan rumah tangga. Namun, ketika gaji suami melebihi istrinya, biasanya suami kurang dapat membantu pekerjaan rumah sehari-hari.
Tetapi bukan hanya karena masalah gaji yang menyebabkan suami enggan membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tetapi juga karena budaya patriarkat yang dianut sebuah negara seperti di Indonesia dan di beberapa negara Asia lainnya seperti Jepang, China, Taiwan dan Malaysia, di mana kaum prianya masih enggan untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Karena banyak pria yang masih menganggap wanita ditakdirkan untuk melakukan pekerjaan domestik, seperti mencuci, menyapu, dan menjaga anak meskipun istri membantu suami mencari nafkah.
Para suami itu bukanlah orang yang pemalas, namun bisa jadi di benak mereka sudah melekat imej bahwa urusan rumah adalah urusan wanita. Hal ini sering disebabkan oleh kultur dan kebiasaan dalam keluarganya yang membuat para suami berpikiran demikian. Bahkan mungkin ada kekhawatiran dari para suami bahwa dengan mengerjakan pekerjaan rumah, kewibawaan dan harga dirinya akan menurun di mata istrinya.
Pria Australia Suami Terburuk di Dunia
Di negara-negara maju yang lebih egaliter pun ternyata ditemukan suami yang membenci pekerjaan rumah tangga, seperti yang diklaim oleh Dr Almudena Sevilla-Sanz, seorang ekonom dari Oxford University, yang melakukan penelitian terhadap 12 negara maju. Dia menyebutkan bahwa pria Australia adalah suami terburuk di dunia karena mereka benci untuk membantu istri dengan pekerjaan rumah. Dia juga menemukan bahwa wanita lebih menginginkan bisa menikah dengan pria dari negara Skandinavia, Amerika Serikat atau Inggris ketimbang Australia. Pria dan wanita dari 12 negara maju tersebut sama-sama lebih menyukai untuk tinggal bersama sebagai suami istri jika mereka percaya pasangan mereka akan membantu pekerjaan rumah dan merawat anak-anak.
Tapi tampaknya bahwa ketika datang waktunya untuk mencari seorang suami yang bersedia membantu pekerjaan rumah dari 12 negara yang diteliti, wanita Australia memiliki waktu yang cukup sulit. Dr. Sevilla Sanz menunjuk Australia berada pada peringkat terendah dalam masyarakat egaliter, yang membuat pria Australia menjadi pasangan pernikahan yang tidak menarik karena mereka tidak menyukai untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Norwegia, Swedia, Inggris, Amerika Serikat dan Irlandia Utara dinilai menjadi negara yang paling egaliter, yang menjadikan para pria mereka pasangan pernikahan yang paling menarik. Berikutnya adalah Belanda, Irlandia, Spanyol, Selandia Baru, Jepang, Jerman, Austria dan Australia di tempat terakhir.
“Di negara-negara egaliter pada prinsipnya Anda mungkin berharap untuk melihat wanita lebih memilih untuk tetap sendiri daripada menghadapi kemungkinan menghabiskan lebih banyak waktu melakukan pekerjaan rumah tangga,” kata Dr Sevilla-Sanz.
Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa di negara-negara egaliter terdapat sedikit stigma sosial yang melekat pada pria untuk melakukan pekerjaan apa yang secara tradisional dilakukan wanita. Hal ini menyebabkan pria dalam masyarakat egaliter mengambil peran domestik yang lebih banyak sehingga kemungkinan membentuk rumah tangga yang harmonis menjadi lebih besar, menciptakan proporsi yang lebih tinggi dari pasangan untuk membangun rumah tangga di 12 negara maju yang diteliti ini.


