Akhirnya, kami memutuskan untuk berdiam diri. Sembari melangkah menuju kamar, kami berdua sepakat untuk memberi salah satu dari mereka label: arogan.
Namun label itu segera luruh begitu saja tatkala saya berjumpa kembali keesokan siangnya. Beliau ternyata adalah pembicara sebelum sesi kami. Jadi saat pergantian, saya sempat bertegur sapa. Kami terlibat dalam percakapan yang menarik sehingga saya terbirit-birit ketika panita mempersilakan saya naik ke podium.
Yang kami percakapkan adalah topik pembicaraan kami masing-masing dalam event tsb. Berlanjut tentang latar belakang pengalaman panjangnya di bidang teknik dan profesinya barunya tiga bulan terakhir. Saya sempat menanyakan apa yang ia suka dari profesi barunya. Akhirnya kami bertukar kartu nama.
Percakapan ringan memang penting untuk menciptakan suasana bersahabat. Obrolan semacam itu menjadi jembatan yang mengikat kita dengan orang lain. Sebagai wanita mandiri, kita perlu lebih ringan melangkah dengan percaya diri dalam pergaulan demi memenangkan persahabatan secara elegan.
Good conversationalist is a good listener
(Lebih lengkap baca di Majalah d'sari vol.23 ~ Baca Hal. 120)

