1. Tipe Perfeksionis
Sifat perfeksionisme, selalu menuntut kesempurnaan atas segala hal yang dikerjakan sang anak, bahkan hampir menuntut yang berlebihan. Menuntut sang anak harus mencapai standar dan permintaan orang tua atas hal apa saja yang dikerjakannya, tidak boleh melakukan kesalahan. Tekanan psikologis anak di bawah pola pendidikan seperti ini sangat berat, kemampuan menanggung beban kegagalan sangat rendah, hubungan antara orang tua dan anak juga akan tegang.
2. Tipe Harapan
Penuh harapan terhadap anak, mengabaikan kemampuan dan hobi sang anak lalu membina dan mendidik anak di semua bidang, rela mengeluarkan biaya yang besar untuk mendidik sang “genius” kesayangan. Pola didik seperti ini bukan saja akan membuat lelah jasmani dan rohani orang tua, juga akan membuat kemampuan belajar anak yang paling dasar bisa hilang. Tidak bergairah dan kehilangan semangat terhadap apa saja, akibatnya tidak ada satu pun usaha yang berhasil.
Memenuhi semua permintaan anak, apa saja menuruti kehendak anak, pantang membiarkan anak mengalami kesulitan, melakukan setiap hal untuknya. Meskipun ia melakukan kesalahan, selalu saja dilindungi, melemparkan tanggung jawab kepada orang lain. Pola didik seperti ini akan melahirkan sebuah “penguasa kecil yang lalim”, kelak akan sulit beradaptasi dengan kehidupan komunitas di masyarakat, akibatnya menjadi seorang yang dibenci.
4. Tipe Khawatir yang Berlebihan
Khawatir yang berlebihan terhadap pergaulan sosial, sandang pangan dan tempat tinggal anak, mengatur dengan matang setiap perencanaan, tidak percaya anak punya kemampuan menyelesaikan setiap hal ihwal; khawatir ada hal-hal kecil terjadi pada anak, setiap saat selalu mencemaskan anak. Pola didik seperti ini hanya akan membuat anak terlalu berlebihan menggantungkan diri, tidak mempunyai kemampuan sedikitpun untuk mengurus diri sendiri, juga akan membuatnya tertular kecemasan orang tua dan tidak bisa tumbuh dalam kebahagiaan, dan bahkan bisa menimbulkan reaksi psikologis yang tidak baik buat anak.
5. Tipe Pengecam, Pemarah, dan Pemukul
Biasanya hanya melihat sisi negatif anak, tidak melihat sisi positifnya: mengawasi setiap gerak gerik anak setiap saat, mengorek kebiasaan anak. Jika sedikit terjadi hal-hal sepele langsung marah dan memukul, akibatnya sang anak tumbuh dan hidup dalam ketakutan. Anak yang tumbuh di bawah pendidikan demikian, kemampuan terhadap keyakinan diri sendiri sangat buruk, dan dapat mengakibatkan liku-liku psikologi yang serius, bahkan sangat membenci orang tua.
Pola pendidikan yang tidak sesuai sangat banyak, secara garis besar seperti beberapa point yang disimpulkan tersebut di atas. Setiap anak merupakan harta orang tua, namun, pola didik masing-masing tidak sama. Jika anda menginginkan agar anak bahagia, memiliki kepribadian yang sehat, pintar dan menonjol, maka anda harus mengubah diri, menemukan cara terbaik membimbing mereka, dengan begitu anda baru bisa memperoleh “mustika” yang cemerlang.
Sumber Tulisan


