Photobucket

Kapan Waktu Tepat untuk PINDAH KERJA?

Sudah sebulan ini, Vera uring uringan terus di kantor. Tak ada lagi kenyamanan bekerja. Bos yang menyebalkan, promosi tak kunjung datang, ditambah rekan kerja baru sering menyepelekan kemampuannya. Dari 5 hari kerja efektif yang harus dijalaninya, 2 di antaranya selalu menjadi hari terburuk. Lambat laun Vera merasa, sudah saatnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Tapi, apakah waktunya sudah tepat? Terutama berkaitan dengan kesiapan mental dan  financial.

Kegalauan yang dirasakan Vera, bisa jadi dirasakan hampir semua orang. Kejenuhan, ketidakpuasan, passion bekerja yang tak lagi sesuai dengan skill, target financial dan mood secara pribadi. Bisa menjadi alasan kuat bagi seseorang untuk memutuskan berhenti dan mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan ekspektasi hidup secara keseluruhan.

Right Man With The Right Place
“Kapan Waktu yang Tepat Untuk Pindah Kerja?” Pertanyaan ini tentu akan mendapat jawaban yang beragam, sesuai passion bekerja dan target hidup yang berbeda beda pada tiap orang. Pada dasarnya, memang tidak ada waktu yang tepat untuk segala sesuatu, namun terkadang keputusan harus kita ambil dalam suasana dan kendala apapun.

Dengan menunda satu keputusan, juga merupakan keputusan itu sendiri. Satu contoh kasus yang pernah dialami  Harianto Widjaya – Senior Product Manager di Group Usaha Sinarmas. Saat ia bekerja di sebuah bank swasta besar, banyak ide cemerlangnya tidak di akomodir dengan baik oleh management hanya karena berbeda prinsip kerja dengan atasannya, ia pun merasa dilecehkan lalu memutuskan pindah ke perusahaan lain yang menawarkan gaji dan fasilitas lebih kecil dari sebelumnya. Tapi di tempat baru tersebut, semua ide dan skillnya sangat di  hargai bahkan menjadi Standard Operation Procedure baru yang dinilai lebih up to date.

Penghargaan tersebut memberikan kenyamanan tersendiri dan memotivasinya untuk bekerja lebih giat lagi memajukan perusahaan, alhasil promosi pun didapatnya. Dari pengalaman tersebut, Harianto Widjaya menegaskan, bahwa setiap orang memiliki motivasi yang berbeda dalam bekerja. Dan financial tentu bukan motivasi yang terbaik, tapi passion lah yang membuktikan diri kita bisa membawa perusahaan menjadi lebih baik, lalu aspek financial biasanya akan mengikuti. Namun, sangat sedikit sekali orang bekerja yang berpikir seperti ini, kebanyakan motivasi mereka adalah uang. Hingga banyak yang bertahan karena tidak mau ambil risiko dengan alasan faktor umur dan keamanan financial, meski harus menelan banyak ketidak nyamanan, bahkan taruhan harga diri.

Kurangnya lapangan pekerjaan, tingginya jumlah pengangguran dan persaingan yang semakin tinggi di segala bidang, menjadi kendala tersendiri bagi setiap pekerja untuk beralih ke bidang lain yang lebih sesuai, atau mencoba banting stir menjadi wirausahawan. Namun sebelum memutuskan untuk berhenti, ada baiknya untuk jujur pada diri sendiri.  Berani untuk tidak menempatkan uang pada skala prioritas, tapi berusaha menemukan kenikmatan dan kenyamanan dalam melakukan pekerjaan yang akan digeluti. (Ria Jumriati)

Note: Artikel Lengkap, baca di Majalah d'sari vol.23 Hal.34

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Free Web Hosting | Top Hosting