Tradisonal Moderen, tren saat ini?
Sekali lagi, pernikahan adalah sakral. Calon pengantin pastinya ingin tampil berkesan di hari yang penuh makna itu. Terkadang peran orang tua, bahkan seluruh keluarga besar sangat dominan untuk menentukan adat yang akan dipakai pada pesta pernikahan. Sementara Anda sendiri sepertinya enggan dengan mengikuti berbagai ritual adat yang terkadang memang melelahkan dan memakan waktu.
Sebagai jalan tengah, calon pengantin sekarang seringkali mengambil praktisnya. Tanpa menghilangkan makna dalam dari suatu pernikahan itu sendiri. Adat istiadat dipersingkat, namun pesta yang digelar masih bisa tetap elegant dan penuh makna. Tentu saja dengan persetujuan dari seluruh keluarga besar. Konsep yang diusung biasanya peleburan dari tradisional dan moderen. Misalnya, pilihan baju yang dikenakan oleh pengantin tidak mutlak dari satu daerah tertentu melainkan penggabungan atau yang sering disebut dengan kebaya moderen (untuk mempelai wanita) dan baju melayu (untuk mempelai pria). Pemilihan lokasi juga disesuaikan ke arah yang lebih casual, biasanya selain restoran, bisa juga pesta taman ataupun gedung pertemuan yang sudah disulap supaya tidak terlalu kaku. Pesta tradisional moderen ini bisa juga memangkas bujet, tapi bisa juga malah semakin membumbung. Semua tergantung dari jumlah undangan dan mewahnya pesta itu sendiri.
Pernikahan Putih
Berbeda lagi dengan pernikahan yang benar-benar modern. Dimana mengadopsi dari budaya Barat. Upacara pernikahan Barat ini paling sering diadopsi dalam seremoni pernikahan di seluruh dunia. Pernikahan moderen ini juga disebut sebagai ‘pernikahan putih’ karena pengantin perempuannya mengenakan gaun yang berwarna putih, dan diilhami oleh gaun pernikahan Ratu Victoria dari Inggris. Banyak pihak yang menyebut pilihan gaun putih sebagai bentuk keanggunan yang sederhana, namun bagi Victoria sendiri, warna putih diangap lambang kesucian pengantin perempuan, sebagaimana disebutkan oleh Elizabeth Otnes, Cele dalam bukunya; Cinderella Dreams: The Allure of the Lavish Wedding (University of California Press. 2002)
Seremoni pernikahan moderen ini biasanya juga dimanifestasikan dalam acara bersulang (toast) oleh sepasang pengantin, yang lantas memotong kue pernikahan, sebelum mereka berdansa bersama. Pengantin perempuan kemudian melemparkan buket bunga yang dibawanya kepada sekelompok hadirin yang terdiri dari perempuan lajang. Konon, siapa yang berhasil menangkap lemparan bunga pengantin perempuan, bakal menjadi pengantin yang berikutnya. Walau begitu, apa yang dianggap sebagai kebiasaan pernikahan moderen seperti pemakaian cincin kawin yang kini digunakan secara luas dalam pernikahan di seluruh dunia, justru merupakan tradisi kuno yang berkembang di Eropa pada Abad Pertengahan. (Vicky Howard, Brides Inc.: American Weddings and the Business of Tradition, University of Pennsylvania Press, 2000)
Kini sebagian besar dari kita sepakat, bahwa cinta menjadi syarat utama sebuah pernikahan. Namun pada masa-masa sebelumnya, menikah karena cinta dianggap sebagai sebuah sentimentalitas yang tolol. Banyak pernikahan yang terselenggara bukan atas nama cinta, Stephanie Coontz, dalam Marriage, a History : From Obedience to Intimacy, or How Love Conquered Marriage (Psychology Today, Mei 2005) menyebutkan bahwa cinta dan pernikahan tak selalu seiring sejalan.dengan cinta. Bila kita meneluri sejarah Eropa, yang menjadi latar belakang perkembangan pernikahan modern, kita akan tahu bahwa pernikahan bukanlah sekedar penyatuan antara dua orang yang saling mencintai, namun berkembang menjadi urusan yang lebih rumit, dengan melibatkan uang dan kekuasaan.
Kisah datangnya cinta
Di jaman Yunani Kuno, orang sudah menganggap cinta sebagai gagasan mulia yang gemerlapan. Namun pemahaman akan cinta pada era ini jauh lebih absurd dari konsep percintaan yang kita anggap wajar, yakni cinta seorang lelaki kepada seorang perempuan. Di jaman ini, kisah cinta sejenis ( antara lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan ) dianggap hal yang biasa. Namun dalam pernikahan, perempuan tidak dianggap sebagai pasangan sang suami, namun lebih dianggap sebagai harta, hak milik seorang suami. Bila si suami meninggal dunia, maka posisi wanita sebagai isteri akan jatuh kepada ahli waris suaminya. Bila suaminya tak punya ahli waris, maka dia akan menjadi isteri kerabat terdekat suaminya. Jadi posisi isteri di era ini, tak jauh berbeda kedudukannya dengan budak, dianggap sebagai barang milik seseorang.
Di jaman Romawi, seorang isteri malah bisa dipertukarkan, untuk mencapai posisi yang menguntungkan. Senator Marcus Porcius Cato, misalnya yang menceraikan isterinya, dan menikahkan isterinya dengan sekutunya, Jenderal Hortensius agar posisinya sebagai politisi lebih kuat dengan dukungan militer. Setelah Hortensius meninggal, dia kembali menikahi isterinya. Bukan main… Sejak abad ke enam, di Eropa mulai bermunculan tren pernikahan baru, yang dikenal sebagai ‘poligami politis’, di mana seorang penguasa memiliki lebih dari satu untuk untuk menjalin persekutuan demi mencapai kekuatan atau menjaga kekuasaannya. Clothar, penguasa perang (warwlord) Jerman, misalnya, mengambil empat isteri. Selain isterinya sendiri, dia mengawini janda saudaranya (untuk menambah kekayaan ), menikahi kakak perempuannya (untuk menguasai keluarga) dan mengawini puteri seorang raja tetangga (untuk menjamin keamanan dalam negerinya). Baru di abad 12, cinta mulai menemukan tempatnya dalam perkawinan, dengan berkembangnya filsafat yang mengajarkan cinta sebagai salah satu kemuliaan utama manusia.
Para bangsawan mulai memandang pernikahan sebagai sebuah lembaga yang secara resmi membuat romantika dan hubungan seksual yang berkelanjutan menjadi sah, tidak membuat orang terjebak dalam dosa. Namun kemuliaan dan kemudahan pernikahan hanya bisa dinikmati kaum bangsawan,belum menjadi milik semua orang. Hingga abad ke 14, hak-hak pernikahan masih menjadi keistimewaan kaum bangsawan. Rakyat jelata, misalnya, tak bebas untuk menentukan siapa orang yang akan dinikahinya, karena penguasa yang mencarikan pasangan bagi rakyatnya. Di tahun 1344, misalnya, seorang tuan tanah di kawasan pertanian Black Forest, Inggris, menentukan semua pernikahan rakyatnya. Petani yang ingin memilih sendiri pasangannya, harus membayar.
Baru di awal tahun 1600-an, pada masa pemerintahan Ratu Victoria, cinta menemukan persatuan yang ideal dalam pernikahan. Ratu Inggris yang terkenal menjunjung tinggi kesopanan ini bahkan mengukuhkan lembaga pernikahan sebagai sarana yang terhormat dan mulia, dengan mengeluarkan sejumlah undang-undang yang yang mempermudah pernikahan dan mempersulit perceraian, dengan segenap peraturannya. Tradisi dan kebiasaan pernikahan pada era ini (termasuk kebiasaan berbulan madu dan penggunaan cincin kawin, banyak diadopsi dalam berbagai pernikahan (termasuk pernikahan tradisional) di berbagai negara di dunia.
Pasang Surut Pernikahan
Awal abad ke 20 mungkin bisa dianggap sebagai puncak kemenangan lembaga pernikahan, sebelum lembaga ini mulai rapuh dan kehilangan pesonanya pada tahun permulaan abad ke 21. Di tahun 1920-an, angka pernikahan meningkat tajam di Amerika Serikat. Namun di awal tahun 1960-an, bersamaan dengan maraknya paham feminisme dan eksitensialisme, semakin banyak kaum muda yang ingin melepaskan diri dari ikatan moralitas yang sebelumnya mereka patuhi. Di tahun 1970-an, saat memuncak gerakan hippies, aktifitas seks bebas semakin banyak diikuti kaum muda, dan lembaga pernikahan mulai goyah. Banyak anak muda yang lari dari rumahnya ( untuk menghindari aturan rumah tangga yang dianggap mengekang mereka ) dan mencari kebebasan sepenuhnya di jalanan. Lembaga pernikahan bagaikan telur yang berada di ujung tanduk.
Padahal di tahun 1950-an, pernikahan masih dianggap sebagai bentuk paling ideal dan dipandang sebagai inti keluarga yang sempurna. Di tahun 1957, misalnya, dalam sebuah jajak pendapat nasional, empat dari lima orang Amerika menyatakan ‘menikah itu baik’ dan menyebut mereka yang hidup melajang sebagai’ orang sakit’, ‘neurotik’, ‘tak bisa diatur’. Di sisi lain, di AS, hingga tahun 2000, ada labih dari 4.2 juta pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Jumlah mereka cukup banyak juga, karena mencakup 64% dari jumlah penduduk yang berusia dewasa. Dalam dunia yang penuh ilusi ini orang tak bisa mengandalkan saling pesona saja sebagai modal untuk membina perkawinan yang bahagia. Banyak pernikahan yang digelar dengan megah. Para pengantin seperti berbulan madu dengan kapal pesiar super mewah. Namun seringkali terjadi, sebelum bahtera itu sampai ke tujuan, para penumpangnya saling berlompatan ke tengah laut, meninggalkan bahtera rumah tangga yang baru saja dibina.
Banyak pernikahan selebritas yang amat rapuh, seperti tumpukan kartu keemasan, yang rontok sendiri tanpa dasar ikatan cinta yang kuat, komitmen yang kokoh dan yang terutama adalah tiadanya struktur penopang yang terdiri dari berbagai unsur, seperti rasa saling menghargai, memahami perbedaan dan kesepakatan untuk sama-sama membangun keutuhan rumah tangga. Perkawinan bukanlah impian semusim saja, namun tak jarang semuanya dianggap sebagai keisengan dan coba-coba saja. Dan inilah hasilnya:
Pernikahan aktris Germaine Greer dengan model Paul De Feu, (lelaki pertama yang berpose bugil di majalah Cosmopolitan) pada bulan Mei 1968 berantakan dalam tempo 3 minggu. Ada yang lebih singkat. Hanya tiga hari setelah bercerai dengan suaminya; Sonny Bono,- penyanyi Cher menikah dengan gitaris rock Gregg Allman pada bulan Juli 1975, dan bercerai 9 hari kemudian. Usia pernikahan aktor Dennis Hopper bersama aktris Michelle Phillips malah hanya 8 hari, setelah menikah di bulan Oktober 1970.
Pernikahan mewah penyanyi pop Britney Spears dengan Jason Alexander, yang berlangsung di Little White Wedding Chapel, Las Vegas ini malah hanya berlangsung selama 48 jam. Sejak awal pernikahan ini nampak ‘tak serius’ karena Britney sebagai mempelai wanita hanya mengenakan celana jeans belel dan topi bisbol lusuh.
Perkawinan aktris Zsa Zsa Gabor dengan Felipe de Alba lebih singkat lagi, hanya sehari. Namun pernikahan orang beken yang paling singkat adalah pernikahan 6 jam antara aktor Rudolph Valentino dengan aktris Jean Acker. Setelah menikah pada bulan November 1919, si pengantin perempuan (yang kecewa karena suaminya ternyata seorang gay) mengunci Valentino di kamar mewah bulan madunya, lalu meninggalkan hotel dan tak kembali lagi.
Tentunya Anda tak ingin sepenggal kisah tadi terjadi dalam kehidupan Anda, kan? Apapun pilihan pesta pernikahannya, yang terpenting adalah bagaimana Anda menjalani kehidupan setelah pesta itu digelar. Itulah dimulainya babak baru kehidupan Anda. (Heru Emka)

